Minggu, 29 Mei 2022

Bolehkah aku hidup?

 

Kamis, 10 November 2022


"Bolehkah aku hidup?"

Kalimat itu mungkin terasa "alay" bagi sebagian besar manusia yang menjalani kehidupan ini dengan serba kecukupan. Tapi ada sebagian manusia lainnya yang sering  mengucapkan kailmat itu. Sebuat tempat yang penuh dengan konflik para elit politik. Tempat dimana sumber daya serba kekurangan. Tempat dimana hanya yang kuat lah yang bisa bertahan hingga akhirnya kalimat itu pun keluar dari mulut mulut manusia yang masih berharap setitik harapan hidup didunia ini. Sulit menjadi peka jika rasa empati telah menghilang dalam diri manusia. 

Entahlah...

Tapi saya itu lebih senang mengeluarkan keluh kesah saya selain sama Allah, hanya melalui blog inilah saya bisa menyampaikan kegalauan hatiku. Ceritaku, sedihku, dan kegundahan hatiku, semua bisa kutuangkan melalui tulisan ini. Saya publikasikan kok karena saya yakin banget bahwa tidak akan ada seorangpun di dunia ini yang saat ini, nanti dan selamanya akan membaca tulisanku ini. Hehheee... saya terlihat tertawa tapi batinku selalu menangis.... ya tentu aja menangisi semuanya...

Pertanyaan yang tak ingin seorang pun menjawabnya adalah "kenapa saya dilahirkan?" yang kemudian seiring waktu berubah menjadi "bolehkah aku hidup?' boleh kah? boleh???? Saya capek...capeekk banget... saya capek menjadi manusia....

Saya tau tak boleh kita berputus asa dari rahmat Allah...makanya saya cuma ingin mengungkapkan rasa dihati yang tak pernah henti bersedih akan keberadaanya di dunia ini.

Hanya saat saat bahagia saja, akan kubagi dengan orang orang yang kucintai....saya tidak ingin orang yang mencitaiku bersedih karena masalah dan kegagalanku, saya hanya berharap mereka bisa selalu tersenyum dan tertawa kepadaku, dan itu lebih dari cukup untukku agar bisa memiliki semangat hidup untuk sehari lagi...

Kalau dibilang saya introvert, saya pikir emang kok... saya selalu ingin menyenangkan orang walau saya tersakiti tapi asalkan orang lain itu bahagia karena ketersakitan dan pederitaan saya, saya oke aja...Kenapa? karena saya merasa bahwa keberadaaanku di dunia ini memang untuk menderita sepertinya... Entahlah saya tidak tau lagi...

Sejak kecil saya selalu dituntut untuk mengalah, toh jika ada keberhasilan atau prestasi yang kudapat tetap aja hanya dianggap biasa saja... saya iri...iya...saya benci...iya...saya tidak suka..saya tidak suka sekali orang yang tidak menganggap saya ini ada...saya benciiii sekali...saya benci...benci banget....saya..saya..benci diri sendiri....

Saya tidak bisa menjadi orang kaya...saya tidak bisa menjadi pejabat... saya tidak bisa menjadi polisi..saya tidak bisa memberi uang buat orang tua... saya tidak bisa menjadi seuatu yang membanggakan... hingga waktuku pun telah habis....karena satu satunya ibuku telah pergi meninggalkanku sebelum saya bisa memberikan apa yang dia inginkan... saya...saya telah mengecewakan semua orang yang peduli kepadaku....mulai dari orang tua, istri dan anak anakku...mereka pasti kecewa dengan keberadaanku....

Maka kalau saya sudah tidak berguna lagi terus buat apa saya hidup? buat apa saya harus bernafas lagi untuk esok hari? bukankah saya tidak punya nilai lagi di mata manusia yang hanya melihat seseorang dari kekayaan, jabatan dan status sosial saja?

Hhhaaaaahhhhh.....!!! Ya Allah seandainya Engkau sebagai sandaran terakhir dihidupku pun pergi meningglkanku maka apalah artinya saya hidup? alhamdulillah, hanya Allah yang mau mendengar keluh kesahku dan menjadi sandaran terakhir hidupku...

Saat ini saya hanya bisa bertanya dan selalu bertanya "Bolehkah aku hidup?" hinnga akhirnya pertanyaan itu kelak akan berubah menjadi "Ijinkan saya untuk hidup.."

Ya udah... buat kamu yang mungkin jg mengalami kesediah dan semua permasalah hidup....saya cm bisa berbagi saran saja, menangis aja...benci aja...karena tidak ada yang salah kok kalau kita menangis dan membenci sesuatu yang membuat kita menangis....dan yakinlah nanti akan "sedikit" plong kok..yahhh walaupun sedikit tapi ada.....

Terima kasih....

Mungkin...

 

Sangatta, 30 Mei 2022

11.05 Wita


Mungkin saya saja yang kurang bersyukur...

Maka nikmat yang kuterima pun tak bertambah.


Mungkin saya saja yang tidak pantas untuk menerima semua kebaikan...

Karena terlalu banyak dosa dan kebohongan yang saya lakukan.


Mungkin saja saya memang tak layak untuk lahir dan hidup di dunia ini...

Jadi sepatutnya lah saya tak boleh berharap dan bermimpi.


Mungkin saja semua itu memang benar adanya

Karena saya hanyalah setitik noda hitam yang hina di hadapan Tuhan.


Namun jika boleh...Jika saja saya boleh...

Sedikit saja untuk diijinkan untuk melihat secercah asa...

Maka kuingin tertidur untuk selamanya.


Tuhan itu baik sekali bahkan terlalu baik...

Hingga lagi dan lagi saya mengkhianatinya, Tuhan tetap baik padaku.


Hati ini lelah... 

Lelah karena raga ini tak memberi manfaat bagi orang yang mencintainya

Lelah karena jiwa ini hanya terus menyakiti orang yang menyayanginya

Begitu lelah hingga lupa untuk bahagia.


Karena bahagia itu apa?